Sekilas Tentang Riba

Pernahkan anda terbetik dalam pikiran Anda bertanya "Apa bedanya transaksi riba dan transaksi syariah?"

Nah, di halman ini kita akan sedikit membahas perbedaan antara transaksi Riba dan transaksi Syari'ah. Kami berharap Anda akan dapat memahaminya dan terjauh dari jeratan riba yang sangat mengerikan.

Supaya mendapatkan gambaran lebih jelas mari kita ulas pengertian riba secara umum seperti contoh berikut ini :

Misal anda ingin membeli rumah sederhana seharga 200 juta dan anda bermaksud hendak menjualnya kembali dengan bunga 1% per bulan untuk jangka waktu pembayaran 3 tahun.

Transaksi jenis ini bisa tergolong transaksi ribawi

Mengapa ?

Karena transaksi di atas mengandung sistem bunga, denda dan sita yang tidak ada kepastian.

Bukannya nilainya sudah pasti bahwa cicilan bulanan tetap sebesar kurang lebih (100% + 1%) x 400 juta/36 bln = 5.6 jt. Sedangkan anda akan untung dalam waktu 3 tahun sebesar 36 bulan x 1% x 400 jt = 144 jt (anda untung 36%).

Bila ternyata terjadi keterlambatan katakanlah menjadi 40 bulan maka keuntungan anda menjadi 40% seperti model lembaga leasing atau perbankan. Jadi pihak yang berhutang sangat dirugikan dengan adanya penambahan denda ini. Bahkan ada yang lebih parah semakin lama dendanya akan semakin besar karena bunga yang tidak terbayar terakumulasi dan akan kena bunga lagi artinya bunga berbunga.

Bagaimana mau membayar bunga berbunga karena pihak peminjam mau mencicil sebulan saja sudah tidak mampu. Pada akhirnya banyak kasus yang agunannya disita karena pihak peminjam sudah tidak mampu membayar cicilan lagi.

Dengan cara ini maka pemberi pinjaman pasti untung dan pihak peminjam dirugikan. Padahal yang namanya usaha harus siap untung dan juga siap rugi. Oleh karena itu model bisnis semacam ini dilarang dalam agama karena ada satu pihak yang selalu untung dan pihak lain bisa dirugikan.

Anda ingin membeli rumah sederhana seharga 200 juta dan anda bermaksud hendak menjualnya secara kredit selama 3 tahun dengan harga 314 juta.

note : 314 juta = 200 jt + untung yang anda rencanakan selama 3 tahun 114 juta.

“Transaksi jenis ini termasuk transaksi syariah”

Sekilas kelihatan sama karena setelah 3 tahun sama-sama akan menghasilkan keuntungan 114 juta tetapi kalau anda jeli ada bedanya.

Yaitu transaksi jenis kedua ini akadnya jelas, harga cicilan jelas, pasti dan tidak akan berubah sekalipun waktu pelunasan mundur.

Jika ternyata waktu pelunasan mundur menjadi 40 bulan tidak dikenakan denda. Jika demikian maka pihak pemberi pinjaman dirugikan karena waktu pelunasan mundur. Inilah kuncinya bahwa pihak pemberi pinjaman juga menanggung kemungkinan kerugian yang bisa saja terjadi. Jadi dalam hal ini pihak pemberi dan penerima pinjaman ada sama-sama untung dan bisa juga sama-sama menanggung lerugian. Makanya transkasi jenis ini diperbolehkan karena tidak adanya unsur penambahan uang diluar kesepakatan.

Jadi transaksi jenis kedua ini tidak mengenal istilah bunga, denda dan biaya administrasi lainnya.

Jadi jelas islam melarang transaksi riba dengan adanya tambahan uang diluar akad yang akan merugikan bagi pihak peminjam. Dengan demikian transaksi yang dikehendaki adalah kedudukan antara peminjam dan yang dipinjami setara bukan pihak yang meminjami di atas yang meminjam.